Antheiz

Berdaulat mulai dari Bahasa

Sa ingat cerita tentang bagaimana Gandhi membantu India berani melawan kedaulatan Inggris atas negeri mereka. Salah satu langkah penting waktu itu adalah mendorong masyarakat India untuk berhenti memakai produk-produk Inggris dan kembali pada produksi mereka sendiri. Gerakan itu kelihatan sederhana, tapi karena dilakukan secara kolektif, dampaknya besar sekali.

Kalau sa tarik cerita itu ke konteks tanah Papua, sa jadi tanya: bagaimana kalau gerakan seperti itu kitong mulai lagi, tapi dengan cara yang lebih sesuai dengan konteks di sini? Bukan soal produk fisik saja, tapi soal hal yang lebih dekat dengan kitong pu identitas: Bahasa.

Sa ingat satu statement dari seorang teman yang kurang lebih bilang begini: “Kitong ini kritik-kritik negara ini, tapi kitong masih pakai dong pu bahasa. Sama saja kitong masih mengakui keberadaan mereka.” Kalimat itu bisa diartikan dengan banyak cara, dan mungkin juga tidak semua orang setuju. Tapi sa mau tarik ke satu hal yang lebih konkret dan bisa kitong pikir baik-baik: Bahasa Indonesia.

Sa pu pertanyaan sederhana: bagaimana kalau ke depan, kitong orang Papua, yang terdiri dari begitu banyak suku dan bahasa, mulai kembali menormalisasikan penggunaan kitong pu bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari? Bukan berarti lalu Bahasa Indonesia dilarang atau dimusuhi. Bukan. Tapi supaya pemakaian Bahasa Indonesia itu bukan satu-satunya pilihan yang dianggap “wajib”, dan kitong bisa berdaya dengan kitong pu bahasa sendiri.

Bayangkan kalau orang Biak dong lebih sering bicara pakai bahasa Biak, orang Sentani pakai bahasa Sentani, orang Mee pakai bahasa Mee, orang Nafri pakai bahasa Nafri, dan begitu juga suku-suku lain dengan bahasa masing-masing. Memang, ini tidak semudah seperti menulis setiap kalimat di sini. Tapi menurut sa, ini hal yang sudah harus kitong pikirkan dari sekarang.

Langkahnya mungkin bisa mulai dari hal-hal kecil tapi konsisten. Misalnya, di sosial media kitong mulai berani pakai bahasa daerah, entah dalam bentuk tulisan, video pendek, atau lagu. Tidak perlu langsung sempurna; yang penting dipakai dulu, dihidupkan lagi. Di rumah dan lingkungan sekitar, orang tua dan anak bisa coba biasakan sisipkan bahasa daerah dalam percakapan, bukan hanya waktu marah atau bercanda, tapi juga dalam hal-hal serius seperti saat bercerita, nasihat, berdoa, dan diskusi.

Sebagai orang yang kerja di bidang teknologi, sa juga rasa kitong harus mulai bantu dari sisi ini, walaupun kecil saja. Misalnya, bikin aplikasi kamus bahasa daerah yang sederhana, atau platform kecil untuk kumpul kata, cerita, dan lagu dalam bahasa daerah. Mungkin awalnya cuma ratusan kata, tapi itu sudah jadi langkah penting supaya kitong pu bahasa tidak hanya hidup di dalam setiap lisan, tapi juga terekam dalam bentuk yang bisa diwariskan dan dikembangkan lagi nanti.

Tujuan dari semua ini bukan sekadar nostalgia atau romantisme identitas. Bukan cuma supaya kitong bisa bilang, “Ini kitong pu bahasa.” Lebih dari itu, bahasa adalah cara berpikir. Kalau bahasa daerah pelan-pelan mati, maka pelan-pelan juga hilang cara pandang, cara memakmanai, dan cara hidup yang khas dari setiap suku. Padahal di situlah sebenarnya kekayaan dan kekuatan suatu bangsa. Dengan menjaga dan menghidupkan bahasa, kitong juga sedang menjaga dan menghidupkan cara berpikir yang merdeka dan berakar.

Kalau sa kaitkan kembali ke gerakan yang dilakukan Gandhi di India, mungkin untuk kitong di tanah Papua, salah satu bentuk “gerakan awal” itu bisa lewat bahasa. Melawan bukan selalu harus dengan teriakan dan kekerasan. Kadang, cukup dengan berani berdiri tegak sebagai diri sendiri, dengan bahasa sendiri, di tanah sendiri. Dari situ pelan-pelan, hubungan kitong dengan negara ini bisa kitong baca ulang, kitong susun ulang, dan kitong tafsir ulang dari posisi yang lebih berdaulat secara batin dan pikiran.

Akhirnya, sebenarnya semua ini cuma pikiran yang muncul begitu saja pas baru bangun pagi, sambil dengar lagu-lagu rohani yang anak-anak PAM GKI menyanyi di YouTube pakai bahasa daerah. Tiba-tiba sa rasa ada sesuatu yang hangat dan sekaligus miris: hangat karena bahasa itu masih hidup di dorang pu suara, miris karena sa tahu tidak semua bahasa dapat kesempatan seperti itu. Mungkin dari rasa campur aduk itulah, tulisan pendek ini muncul.

Begitu sudah.
Taop.