Antheiz

Hidup Baik Sudah

Boh sa punya motor hilang. Tra ada kata pembuka yang lebih pas dari itu sudah.

Memang ini bukan kejadian yang paling berat dalam hidup. Tapi cukup bikin satu hari rasa lebih panjang dari biasa — dan sa pu pikiran jadi sedikit lebih repot dari yang seharusnya.

Yang menarik dari momen macam begini ni bukan soal hilangnya, tapi tong pu reaksi setelahnya. Kepala langsung mulai hitung-hitung: harus cepat dapa ganti, butuh ini, butuh itu, dari mana, kapan. Semua datang baku tabrak sekaligus, bahkan sebelum sempat duduk tenang.

Hidup memang tra sabar. De tra kasih banyak ruang buat tong berhenti sejenak — satu hal su pergi, hal lain su tunggu mo cepat-cepat diurus.

Sa rasa itu bagian yang paling bikin cape. Bukan de pu masalah sendiri, tapi ritme yang ikut di belakangnya itu. Harus terus bergerak, harus cepat dapa solusi, harus segers ambil keputusan bahkan saat kondisi lagi tra ideal.

Macam lucu juga kalo dipikir-pikir. Hidup kadang taruh tong di posisi yang tong tra mau pilih, baru minta tong tetap jalan macam tra terjadi apa-apa. Dan tong pun bergerak — karena memang tra ada pilihan lain yang lebih masuk akal.

Mungkin ini su yang dorang bilang dewasa. Bukan karena su tau semua jawaban, tapi karena tong tetap cari jalan keluar biarpun keadaan lagi tra memungkinkan.

Di tengah semua itu, sa jadi ingat tiga kata: Kehidupan, Kebaikan, Kesudahan. Kalo disingkat dan dirangkai jadi satu kalimat sederhana — Hidup Baik Sudah.

Mungkin sesederhana itu juga cara paling santai untuk respons hari-hari yang tra jalan sesuai rencana. Untuk sekarang: sa usahakan cari motor baru dulu. Sisanya, urusan nanti saja. hehehe